Film ‘Pria’ Melawan Stigma, Mendamba Kesetaraan
Keluar dari mitos maskulinitas yang mencekik
Narasi jantan yang dibangun dalam budaya patriarkal membuat Aris terpaksa memenuhi standar yang terbentuk secara turun temurun. Sebelum resmi menikah, Aris bersama Gita, calon istrinya harus melewati “kelas” pranikah yang dipimpin oleh ayah Gita sendiri. Calon mertua Aris memberi nasihat tentang urusan ranjang. Ia percaya bahwa menggulung ekor kuda di kemaluan pria niscaya akan meningkatkan vitalitasnya saat bersetubuh. Si calon mertua Aris bahkan tidak ragu memintanya mendemonstrasikan mitos tersebut. Mitos tersebut melanggengkan narasi maskulinitas yang harus dipenuhi oleh pria. Standar-standar abstrak seperti inilah yang mesti dikritik. Akan ada ketakutan dalam diri pria jika sikapnya tidak sesuai dengan standar yang telah berlaku di masyarakat, seperti yang tergambar dalam karakter Aris. Ia hanya bisa berperilaku sebagaimana yang ia kehendaki hanya ketika dirinya sedang sendirian. Jelas, ada ketakutan seorang gay tidak akan diterima dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya pertentangan dalam diri yang dialami oleh para gay terkadang menimbulkan berbagai macam perasaan seperti cemas dan malu. Untuk mengatasi perasaan-perasaan ini, banyak orang-orang gay lari dari masalah, berusaha menjadi seperti yang diinginkan oleh lingkungan, mengatur gaya bahasa dan tubuh, serta menjalin suatu relasi heteroseksual. Kritik inilah yang dicoba disampaikan oleh Pria. Film ini menyampaikan keresahan kelompok homoseksual di Indonesia yang terjebak dengan standar maskulinitas atau feminitas yang mengakar. Selain itu, terdapat pula kritik terhadap praktik diskriminasi gay. Ucapan “bau” yang Gita layangkan untuk Aris dalam suatu adegan menjadi refleksi bagaimana gay diperlakukan di masyarakat. Layaknya bau yang tidak sedap, gay dianggap sebagai entitas yang mengganggu dan tidak pantas bersanding dengan masyarakat lainnya. Kritik yang disampaikan oleh film ini merupakan upaya untuk tidak lagi menormalisasi praktik diskriminasi terhadap kaum homoseksual. Meski begitu, gay di Indonesia tidak hanya bergulat dengan tindakan diskriminatif.Keluar dari Stigma yang Menyesatkan
Stigma negatif terhadap gay juga tidak jarang diasosiasikan dengan hal-hal berbau supernatural. Dalam film pendek ini, terdapat adegan Ibu Aris yang memaksa anaknya memakan beras merah. Tindakan itu dilakukan setalah Aris merasa yakin perempuan pilihan ibunya bukanlah sosok yang tepat untuk dijadikan pendamping hidup. Ketakutan terhadap orientasi seksual anaknya membuat ibunya mencari cara menolak “sial” , yakni dengan memakan beras merah. Upaya ibu Aris menjadi representasi masyarakat Indonesia terhadap gay. Gay masih dianggap sebagai fenomena yang tabu, terkutuk, dan membawa sial. Pada level yang ekstrem, mengakarnya mitos tidak jarang membuat asumsi kausalitas antara gay dan bencana alam.
Pria menjadi satu dari sedikit film yang mau membawa fenomena yang tabu ke permukaan. Film ini juga berhasil menyampaikan kritik terhadap budaya yang makin melanggengkan praktik diskriminatif terhadap kaum homoseksual. Selain itu, film ini juga menyampaikan bahwa orientasi seksual merupakan entitas yang melekat dalam diri individu. Homoseksualitas juga bukanlah sebuah kutukan yang bisa dijadikan alasan atas segala musibah terjadi.
Film ini juga dengan lantang menyuarakan bagi kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) untuk hidup sesuai dengan apa yang ia kehendaki, bukan lagi hidup atas tuntunan dan arahan orang lain. Sebuah pesan manis tersaji bagi siapa pun yang menonton film ini. Meski membawa isu homoseksualitas sebagai premis, film ini juga menyampaikan pesan mendalam bagi penonton. Pesan itu tidak lain agar kita lebih memahami diri sendiri.
Dimuat di: https://magdalene.co/story/film-pria-melawan-stigma
